Anoreksia atau lengkapnya
disebut anoreksia nervosa merupakan suatu gangguan yang berpotensi
mengancam nyawa akibat kelaparan dan penurunan berat badan yang drastis. Diagnosa ditegakan jika seseorang
kehilangan sedikitnya 15% dari berat badan normal atau idealnya. Penurunan
berat badan yang ekstrem pada penderita anoreksia sangat berbahaya bagi
kesehatan dan bahkan dapat mematikan.
Istilah anoreksia
secara harafiah artinya kehilangan nafsu makan. Definisi ini sedikit salah
kaprah sebab penderita anoreksia sebenarnya merasakan lapar namun menolak untuk
makan. Penderita anoreksia sangat takut gemuk bahkan mereka tetap melihat
dirinya gemuk padahal sudah sangat kurus. Mereka akan menolak makan dan
melakukan olah raga yang berlebihan untuk menurunkan berat badan.
Siapa
saja yang dapat mengalami anoreksia?
Gangguan makan
seperti anoreksia umumnya dialami oleh wanita terutama mereka yang berprofesi
sebagai aktor, model, penari dan atlet. Mereka umumnya takut kelihatan gemuk
akibat tuntutan profesi yang lebih mementingkan penampilan tubuh.
Penderita anoreksia
tampak sangat berprestasi baik di sekolah, olah raga, pekerjaan dan aktivitas
lainnya. Mereka terlihat perfeksionis dengan obsesif, cemas atau gejala
depresif. Anoreksia dimulai pada masa pubertas dan dapat muncul kapan saja.
Apa
sih penyebab anoreksia?
Penyebab pasti
anoreksia masih belum diketahui namun diduga akibat kombinasi antara karakter
pribadi, emosi, dan pola pikir. Faktor biologi dan lingkungan juga berperanan
penting atas terjadinya anoreksia.
Penderita anoreksia
sering menggunakan makan dan makanan sebagai cara untuk “melarikan diri” dari
tekanan atau stress yang mereka rasakan. Perasaan rendah diri, cemas, marah,
selalu kekurangan, kesepian juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya
anoreksia. Mereka yang mengalami masalah makan umumnya pernah mengalami sejarah
buruk dalam hubungan pertemanan atau percintaan yaitu pernah dicampakan akibat
kegemukan. Tekanan dari teman teman dan lingkungan sekitar yang tampak langsing
dan cantik secara fisik ikut memancing seseorang mengalami anoreksia.
Gangguan makan juga
disebabkan oleh masalah fisik. Perubahan hormonal yang mengendalikan masalah
mood, selera makan, pikiran dan memori diduga berperanan atas terjadinya
gangguan makan. Penderita anoreksia sering berasal dari keluarga yang salah
satu anggotanya juga menderita anoreksia sehingga faktor genetik juga
berperanan.
Penegakan
diagnosis dalam kriteria untuk anoreksia nervosa:
1.Orang bersangkutan
menolak untuk mempertahankan berat badan normal. Penurunan berat badan biasanya
dilakuan melalui diet, muntah dengan sengaja dan olahraga berlebihan dapat
menjadi gambaran anoreksia nervosa.
2.Mereka sangat takut
bila berat badannya bertambah, dan rasa takut tersebut tidak berkurang dengan
turunnya berat badan. Mereka tidak pernah merasa sudah cukup kurus.
3.Mereka memiliki
pandangan menyimpang terhadap tubuh mereka. Bahkan dalam kondisi kurus mereka
tetap merasa bahwa mereka kelebihan berat badan atau beberapa bagian tubuh
gemuk. Mereka biasanya mengecek berat badan mereka dengan menimbangnya,
mengukur berbagai bagian tubuh, dan mengamati secara kritis tubuh mereka di
cermin. Harga diri mereka terkait dengan menjaga tubuh mereka tetap kurus.
4.Pada perempuan,
kondisi tubuh yang sangat kurus menyebabkan amenorea, yaitu berhentinya periode
mentruasi. Dari keempat kriteria diagnostik tampaknya kriteria keempat adalah
kriteria yang kurang penting, melihat para perempuan ada yang mengalaminya dan
juga tidak dalam anoresksia nervosa.
Apa
saja sih gejala anoreksia?
Gejala anoreksia
antara lain:
- Penurunan berat
badan yang sangat cepat dalam beberapa minggu atau bulan.
- Terus terusan
membatasi makan/diet meskipun sudah kurus.
- Memiliki
ketertarikan yang di luar kebiasaan terhadap suatu makanan, kalori,
nutrisi atau memasak.
- Sangat ketakutan
bila berat badan meningkat.
- Mempunyai
kebiasaan makan yang aneh bahkan cenderung rahasia.
- Takut gemuk
meski sudah sangat kurus.
- Tidak mampu
menilai secara realistis terhadap berat badan seseorang.
- Ingin selalu
tampak sempurna dan suka mengkritik diri sendiri.
- Kepercayaan diri
sangat dipengaruhi oleh berat badan dan bentuk tubuh.
- Depresi, cemas
dan mudah marah.
- Siklus haid yang
tidak teratur dan bahkan tidak haid pada wanita.
- Menggunakan obat
diuresis, laksatif dan pil diet.
- Sering sakit.
- Menggunakan
pakaian yang longgar untuk menutupi badan yang kurus.
- Berolah raga
yang berlebihan.
- Merasa tidak
berguna dan tidak ada harapan.
- Putus asa.
- Gangguan fisik
seperti tidak kuat pada cuaca dingin, anemia, dan lain lain.
Bila tidak segera
diatasi, anoreksia dapat menyebabkan:
- Kerusakan organ
khususnya jantung, otak dan ginjal.
- Penurunan
tekanan darah, nadi dan frekuensi nafas.
- Rambut rontok.
- Detak jantung
yang tidak teratur.
- Osteoporosis.
- Gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
- Kematian akibat
kelaparan atau bunuh diri.
Bagaimana
mendiagnosa anoreksia?
Mengindentifikasi
anoreksia memerlukan tantangan tersendiri. Kerahasiaan, perasaan malu dan
menolak dikatakan menderita kelainan adalah tantangan tersebut. Hal ini
menyebabkan anoreksia sulit dideteksi dan baru diketahui setelah jangka waktu
lama.
Begitu gejala tampak,
dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik maupun penunjang untuk
menegakan diagnosa anoreksia. Meskipun pemeriksaan laboratorium khusus untuk
anoreksia tidak perlu tapi dokter tetap melakukan beberapa tes untuk memeriksa
kemungkinan gangguan fisik yang telah terjadi akibat anoreksia.
Jika tidak ditemukan
penyakit fisik, dokter akan menyarankan penderita anoreksia untuk ke psikiatri
untuk mengatasi masalah mental yang terjadi.
Bagaimana
mengobati anoreksia?
Perawatan kegawat
daruratan pada anoreksia diperlukan jika terdapat kondisi dehidrasi berat,
malnutrisi, gagal ginjal dan detak jantung tidak teratur yang mengancam nyawa.
Gawat atau tidak,
pengobatan anoreksia memerlukan tantangan akibat penderita menolak dianggap
memiliki masalah. Seperti gangguan makan yang lain, anoreksia memerlukan
penanganan yang komprehensif untuk mengetahui kebutuhan tiap tiap pasien.
Tujuan pengobatan
adalah mengembalikan berat badan ke posisi sehat, mengatasi masalah emosional,
memperbaiki pola pikir dan menjaga agar perubahan tersebut berlangsung terus
menerus. Pengobatan sering mengkombinasikan antara psikoterapi dan obat obatan.
Apakah
anoreksia bisa dicegah?
Meskipun sangat sulit
mencegah semua kasus anoreksia tetapi pengobatan dini begitu gejala muncul
sangat membantu penderita jatuh ke kondisi yang lebih parah. Pendidikan secara
dini tentang kebiasaan hidup sehat dan pandangan positif terhadap makanan serta
penampilan juga sangat membantu mencegah keadaan yang lebih parah dari gangguan
makan.
Perubahan
fisik pada anoreksia nervosa
Melaparkan diri
sendiri dan penggunaan obat pencahar menimbulkan berbagai konsekuensi biologis
yang tidak dikehendaki pada para pasien anoreksia nervosa. Tekanan darah sering
kali turun, denyut jantung menurun, system pencernaan menjadi bermasalah.
Abnormal EEG dan hendaya neurologis sering terjadi pada para pasien anoreksia.
Perubahan struktur otak, seperti rongga yang meluas atau pelebaran sulcal, juga
dapat terjadi, namun dapat diperbaiki.
Prognosis
Sekitar 70% pasien
anoreksia akhirnya dapat sembuh. Meskipun demikian, penyembuhan dapat
berlangsung selama 6 sampai 7 tahun, dan kekambuhan umum terjadi sebelum
tercapainya pola makan yang stabil dan dipertahankannya berat badan.
Penanganan
gangguan makan
Perawatan rumah sakit
yang kadang dijalani dengan terpaksa, seringkali diperlukan untuk menangani
pasien anoreksia agar asupan makanan pasien dapat ditingkatkan secara bertahap
dan dipantau dengan teliti. Pada anoreksia, perlu untuk diberikan intervensi
biologis dan psikologis.
Penanganan
biologis
Karena anoreksia
nervosa sering kali komorbid dengan depresi, gangguan ini ditangani dengan
berbagai antidepresan. Fluoksetin lebih memberikan hasil dibandingkan dengan
plasebo untuk mengurangi makan berlebihan dan muntah, juga mengurangi depresi
dan sikap yang menyimpang terhadap makanan dan makan. Sayanganya, hal itu tidak
terlalu berhasil. Hanya memulihkan berat badan tanpa mengurangi gejala-gejala
anoreksia.
Penanganan
psikologi anoreksia nervosa
Terapi bagi anoreksia
secara umum diyakini sebagai suatu proses dua tahap. Tahap pertama, adalah
tujuan jangka pendek yang membantu pasien menambah berat badan untuk mencegah
komplikasi medis dan kemungkinan kematian. Program operant conditioning cukup
berhasil untuk menambah berat badan dalam jangka pendek. Sedangkan tujuan
jangka panjang memiliki dampak yang kurang bisa berhasil secara reliable dalam
penanganan berat badan.
Daftar Pustaka:
Davidson, G.C., Neale, J.M.,
& Kring, Ann M. 2000. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Permata.
mis, 16 Desember 2010
RESENSI FILM “MISS CONGENIALITY”
Dalam film ini seorang agen FBI yang bernama Hart (Sandra Bullock) ditugaskan
untuk menyamar sebagai salah satu dari kontestan dari acara pemilihan ratu
kecantikan. Disana agen Hart harus menyesuaikan diri seperti seorang kontestan
ratu kecantikan yang selalu memperhatikan penampilannya. Dalam penyamarannya
agen Hart bergaul dengan para kontestan yang lainnya, para kontestan yang lain
itu selalu memperhatikan penampilannya. Salah satu caranya adalah ketika mereka
selesai makan, mereka selalu mengeluarkan kembali makanan yang telah masuk
kemulutnya, yaitu dengan memasukkan telunjuknya kedalam mulutnya hingga makanan
tersebut keluar kembali. Padahal tubuh mereka sudah langsing tetapi para
kontestan tersebut masih merasa tubuhnya kurang ideal dab mereka takut jika
berat badan mereka bertambah dan menjadi gemuk.
Perilaku memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan tersebut, menunjukkan
bahwa penderita mengalami kecemasan yang dapat berakibat depresi terhadap
tuntutan yang berasal dari lingkungan, untuk dapat diterima dilingkungannya dan
untuk dapat menjadi yang terbaik.
BULIMIA
A. PENDAHULUAN
1. Definisi bulimia
Bulimia merupakan bahasa latin dari sebuah kata
Yunani boulimia, yang artinya “extreme hunger” alias lapar yang amat
sangat, mereka cenderung makan dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat,
seperti orang yang kelaparan, dan selanjutnya sebagai “kompensasi” dari pola
makannya tersebut, mereka akan melakukan berbagai cara yang intinya supaya
berat badan mereka tidak bertambah meski mereka sudah makan banyak. Bulimia
nervosa merupakan gangguan psikologis yang menyebabkan terjadinya gangguan pola
makan ditandai dengan makan terlalu banyak dan diikuti dengan muntah yang dirangsang
sendiri
Bulimia nervosa merupakan penyakit gangguan pada kebiasaan atau pola
makan. Eating disorders (gangguan makan) adalah suatu sindrom psikiatrik yang
ditandai oleh pola makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik
psikologik yang berhubungan dengan makan, bentuk tubuh, dan berat badan.
gangguan pola makan terjadi akibat beberapa sebab dalam perilaku makan, seperti
konsumsi makanan yang kurang sehat atau makan yang terlalu banyak.
Bulimia nervosa adalah pesta makanan yang diikuti dengan mencuci perut
atau sampai muntah. gangguan pola makan biasanya muncul bersamaan dengan
penyakit lain seperti depresi, menjadi bagian dari sebuah kekerasan, dan
gangguan kecemasan. Dalam hal ini, orang yang menderita gangguan pola makan
bisa mengalami komplikasi kesehatan fisik yang lebih jauh lagi, termasuk
masalah kondisi kerja hati dan gagal ginjal, yang mana dapat menyebabkan
kematian. Banyak penderita bulimia memiliki berat badan yang normal dan
kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasa mereka
orang-orang yang kelihatan sehat, sukses di bidangnya, dan cenderung
ferfeksionis. Namun, di balik itu, mereka memiliki rasa percaya diri yang
rendah dan sering mengalami depresi.
2. Tipe Bulimia
• Bulimia Nervosa-Purging Type :
Tipe yang memuntahkan kembali makanan setelah sangat kenyang (menggunakan
purging medications). Dilakukan dengan menusukkan jari ke tenggorokan, atau
dengan menggunakan obat-obatan laksatif, obat pencahar, maupun obat-obatan
lain. Tujuannya agar makanan tidak sempat dicerna oleh tubuh sehingga tidak
menambah berat badan
• Bulimia Nervosa-Non Purging Type
: Penderita berolahraga berlebihan setelah makan atau berpuasa untuk mengontrol
berat badan, namun tidak muncul purging behaviors. Tujuannya agar energi yang
dihasilkan dari makanan dapat langsung dibakar dan habis
B. . ETIOLOGI
1. Model adikasi : Bulimia Nervosa diyakini sebagai adiksi
terhadap makanan dan tingkah laku. Hal ini berhubungan dengan pengobatan
bulimia Nervosa yang menekan kan pada penghentian, dukungan sosial dan mencegah
kekambuhan, dimana metode ini mirip dengan pengobatan adiksi terhadap alcohol
maupun obat-obatan
2. Model keluarga : Gangguan makan pada remaja berhubungan
dengan system interaksi antara keluarga. Oleh karena itu fokus pengobatan
penderita bulimia nervosa adalah disfungsi interaksi dalam keluarga. Penderita
bulimia nervosa pada umumnya memiliki riwayat kekerasan fisik maupun seksual
semasa kanak-kanak
3. Model sosial budaya : Publikasi media tentang hubungan
antara tubuh yang langsing dengan karier yang sukses telah merangsang para
remaja untuk melakukan diet supaya tubuhnya menjadi langsing. Banyak remaja
yang gagal mencapai keaadaan ini dan akhirnya menjadi penderita bulimia nervosa
4. Model kognitif dan tingkah laku : Bulimia nervosa merupakan
implementasi tingkah laku yang irasional tentang bentuk tubuh, berat badan,
diet dan kepercayaan diri. Fokus pengobatan adalah mengidentifikasi disfungsi
ini dan membantu menumbuhkan keyakinan yang rasional. Penderita diberikan jadwal
makan yang jelas dan teratur
5. Model psikodinamik : Bulimia nervosa merupakan usaha untuk
mengendalikan atau menghindari dampak perasaan yang tertekan, implusif dan
kecemasan. Pengobatan psikodinamik adalah mencari proses yang mendasari
penderita bulimia nervosa terutama gambaran psikososialnya.
6. Faktor yang berperan :
• Faktor psikososial : Berupa
perkembangan individu, dinamika keluarga, tekanan sosial untuk berpenampilan
kurus serta perjuangan untuk mendapatkan identitas diri
• Faktor genetik : Adanya bukti
bahwa bulimia banyak didapat pada penderita dengan riwayat keluarga gangguan
depresi dan kecemasan, serta lebih banyak pada kembar monozigot dibandingkan
dizigot
• Faktor biologik : Berdasarkan
studi ditemukan fakta bahwa genetik, hormon dan bahan kimia yang terdapat di
otak berpengaruh terhadap efek perkembangan dan pemulihan bulimia
• Faktor budaya : Kebanyakan orang
menilai bahwa cantik identik dengan kurus dan terkadang kondisi tersebut
menjadi suatu tuntutan kerja. Anggapan ini pun menjadi budaya yang berkembang
di masyarakat
• Perasaan pribadi : Penderita
bulimia senantiasa berputus asa terhadap dirinya sendiri, tidak percaya diri
sehingga mereka diet dengan cara menggunakan pil diet bahkan memuntahkan
makanan. Penilaian orang terhadapa dirinya menyebabkan kecemasan dan tekanan
yang dapat menyebabkan stress sehingga untuk mengatasinya mereka cenderung ke
arah bulimia
C. TANDA-TANDA BULIMIA NERVOSA
• Makan Banyak berkelanjutan
• Menguruskan badan dengan diet berlebihan, puasa, latihan berlebihan atau
memuntahkan kembali
• Memaksakan diri secara berlebihan untuk kurus
• Secara berkelanjutan masuk ke kamar mandi setelah makan
• Jari-jari memerah
• Pipi lembam
• Selalu mengukur diri dengan bentuk badan dan berat badan
• Depresi atau emosi tidak stabil
• Periode menstruasi yang tidak umum
• Gigi bermasalah, seperti gigi bolong
• Mulas-mulas
D. DAMPAK BULIMIA NERVOSA
1. Fisik
• Kehilangan selera makan, hingga tidak mau mengkonsumsi makanan apapun
• Luka pada tenggorokan dan infeksi saluran pencernaan akibat terlalu sering
memuntahkan makanan
• Lemah, tidak bertenaga
• Sulit berkonsentrasi.gangguan menstruasi
• Kematian
• Erosi dan lubang pada gigi serta penyakit gusi
• Dehidrasi
• Iritasi dan pembengkakan tenggorokan
• Pembengkakan pada pipi
• Rambut rontok dan kulit kering
• Masalah pencernaan
2. Psikologis
• Perasaan tidak berharga
• Sensitif, mudah tersinggung, mudah marah
• Mudah merasa bersalah
• Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain
• Tidak percaya diri, canggung berhadapan dengan orang banyak
• Cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya
• Minta perhatian orang lain
• Depresi (sedih terus menerus)
E. TERAPI
a. Psikotherapi : Umumnya dokter melakukan terapi
kognitif, yang bertujuan merubah persepsi dan cara berpikir pasien mengenai
tubuhnya. Dokter mendorong pasien untuk berpikir secara benar terhadap dirinya
sehingga menjadi lebih obyektif melihat suatu masalah, dan menghilangkan sikap
serta reaksi yang salah terhadap makanan
Memberi kepercayaan kepada pasien sehingga pasien mau bekerjasama dalam
pengobatan
Menghentikan kebiasaan makan yang salah dan episode muntah serta diare : Hal
ini dapat dilakukan dengan membatasi jumlah dan jenis makanan pasien bulimia
nervosa. Namun sedikit sulit bila pasien tinggal dirumah tanpa pengawasan
Usaha-usaha yang dapat dilakukan
untuk mempertahankan keadaan yang sudah membaik :
• Setelah pengobatan biasanya
pasien akan mengulangi kebiasaannya untuk makan lagi, maka kita jangan menentangnya,
tapi kita anggap bahwa hal itu merupakan respon yang fisiologis
• Agar pasien mau makan, maka kita katakankepadanya bahwa rasa lapar yang
timbul itu, karena tubuhnya memerlukan nutrisi
• Kalau pengobatan berhasil, maka pasien akan mengurangi ketergantungan
terhadap kebiasaan jeleknya dan gejala depresinya akan teratasi, ini dapat
berlangsung untuk beberapa bulan.
• Oleh karena kebiasaan makan yang jelek pada bulimua nervosa ini mudah
berulang kembali, maka pengobatan yang paling efektif adalah dengan memberikan
rasa paercaya diri kepada pasien terhadap penampilan dan berat badannya
b. Farmakotherapi : Untuk penderita bulimia umumnya
diberikan obat-obatan jenis antidepresan bersama dengan pengobatan psikoterapi.
Obat yang diberikan umumnya dari jenis trisiklik seperti imipramine (dengan
merek dagang Tofranil) dan desipramine hydrochloride (Norpramin); atau jenis
selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti fluoxetine
(Antiprestin, Courage, Kalxetin, Nopres, dan Prozac), sertraline (Zoloft), dan
paroxetine (Seroxat)
c. Terapi psikis : Terapi bulimia biasanya meliputi
konseling dan terapi tingkah laku. Sebagian besar gangguan makan
permasalahannya bukanlah pada makanan itu sendiri, tetapi pada kepercayaan diri
dan persepsi diri. Terapi akan efektif jika ditujukan pada penyebabnya, bukan
pada gangguan makannya. Terapi individu, dikombinasikan dengan terapi kelompok
dan terapi keluarga seringkali sangat membantu. Terapi kelompok adalah terapi
dimana penderita penyakit yang sama saling membagi pengalaman mereka
d. Terapi nutrisi : Ahli gizi dapat mengatur jadwal makan,
memberikan penjelasan mengenai tujuan terapi nutrisi, pentingnya diet sehat dan
akibat buruk dari pola makan yang salah terhadap kesehatan. Pengaturan diet
untuk penderita bulimia nervosa dilakukan secara bertahap tergantung tingkat
keparahan serta ada tidaknya komplikasi dengan penyakit penyerta. Selain dengan
pengaturan makan yang sehat dan berimbang diperlukan juga olahraga secara tepat
dan teratur
F. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
• Program pencegahan primer :
Pencegahan ini langsung ditujukan pada populasi berisiko tinggi seperti murid
wanita SMP untuk mencegah timbulnya gangguan makan pada mereka yang
asimtomatik. Pencegahan yang dilakukan dapat berupa program pendidikan mengenai
sikap dan prilaku terhadap remaja
• Program pencegahan sekunder :
Pencegahan ini bertujuan untuk deteksi dan intervensi dini, dengan memberikan
pendidikan pada petugas kesehatan di pusat pelayanan kesehatan primer
G. KESIMPULAN
Penyebab bulimia belum diketahui
secara pasti hanya saja secara umum dapat terjadi karena peran berbagai faktor
(psikologis, lingkungan, genetik). Sehingga penatalaksanaannya dilakukan dengan
menerapkan berbagai terapi antara lain : terapi nutrisi, konseling, dan psikoterapi
H. SARAN
Bagi penderita yang mengalami
bulimia nervosa hendaklah makan secara normal, diet seimbang dan bila
menginginkan penurunan berat badan, mulailah dengan bimbingan ahli gizi
- Anoreksia. Seseorang yang menderita
anoreksia umumnya memiliki ketakutan yang tidak normal pada kegemukan.
- Bulimia. Penderita bulimia mengalami
siklus makan yang sangat berlebihan , untuk kemudian dikeluarkan kembali
dengan cara dimuntahkan secara paksa atau melalui puasa dan olahraga
berlebihan.
Penyebab ganguan makan. Anda sudah berkenalan dengan keluarga si penganggu, tapi
apakah Anda tahu apa sebenarnya yang bisa ‘mengundang’ mereka ke kehidupan
Anda? “Secara umum, penyebab pasti gangguan makan masih tanda tanya besar,”
ujar dr. Slyvia Detri Elvira, SpKJ dari Departemen Psikiatri RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo. Namun, para ahli menduga bahwa gangguan makan bisa timbul
akibat kombinasi dari faktor psikologis, lingkungan, dan biologis. “Rasa stres,
depresi, dan kekhawatiran berlebihan terhadap sesuatu bisa menjadi pemicu utama
yang memengaruhi perilaku menyimpang tersebut,” jelas dr. Slyvia.
- Psikologis. “Para
penderita gangguan makan banyak yang mengalami body image dysmorphic
(BED), di mana cara pandang seseorang terhadap dirinya beda dangan cara
pandang orang lain,” kata dr. Grace. “Jadi, para pasien selalu merasa
dirinya gemuk, walaupun fakta dan orang lain justru berkata sebaliknya,”
tambahnya. Selain itu, seseorang dengan BED selalu menilai berat badan
menentukan segalanya, termasuk gagal tidaknya mereka dalam karier dan
percintaan. Akibatnya, mereka menjadi terobsesi dengan berat badan
sendiri.
- Lingkungan
juga memegang peranan penting. Pengaruh kebudayaan Barat yang mengagungkan
persepsi ‘thin is beautiful’ meresap ke masyarakat melalui media massa
yang mereka konsumsi setiap hari. “Terjadi peningkatan persentase pria
yang menderita gangguan makan. Alasannya? Karena para pria kini semakin
memerhatikan bentuk badannya,” jelas dr. Grace. Sementara itu, diet
yang terlalu ekstrem bisa mengganggu pasokan nutrisi yang
dibutuhkan otak. Akibatnya, kerja otak menjadi tidak normal dan bisa
memperparah gejala-gejala gangguan makan.
Berdampak fatal bagi kesehatan! Meski tergolong ke dalam penyakit kejiwaan, dampak gangguan
makan bisa sangat merusak, bahkan membawa Anda menuju ke kematian. Studi dari
National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders melaporkan,
5-10% pasien anoreksia meninggal dalam 10 tahun sejak pertama kali menderita
gangguan makan tersebut. Bahkan, dalam 20 tahun, angka tersebut bisa melonjak
hingga 18-20%. Lalu, menurut South Carolina Department of Mental Health,
sekitar 20% penderita anoreksia akan mati secara prematur akibat komplikasi
dari gangguan mereka, termasuk karena bunuh diri dan masalah di jantung. Jika
dibiarkan berlarut-larut, gangguan makan memang bisa berdampak ke kesehatan
jantung.
Gangguan
Makan (Eating Disorder)
Definisi Gangguan Makan
Gangguan makan ditandai dengan
gangguan ekstrem. Gangguan makan hadir ketika seseorang mengalami gangguan
parah dalam tingkah laku makan, seperti mengurangi kadar makanan dengan ekstrem
atau makan terlalu banyak yang ekstrem, atau perasaan menderita atau
keprihatinan tentang berat atau bentuk tubuh yang ekstrem. Seseorang dengan
gangguan makan mungkin berawal dari mengkonsumsi makanan yang lebih sedikit
atau lebih banyak daripada biasa, tetapi pada tahap tertentu, keinginan untuk
makan lebih sedikit atau lebih banyak terus menerus di luar keinginan (American
Psychiatric Association [APA], 2005).
Gangguan makan biasanya berkembang
selama masa remaja atau dewasa awal.Namun, mereka bisa mulai di masa kecil,
juga. Wanita jauh lebih rentan. Hanya sekitar 5% sampai 15% dari orang
dengan anoreksia atau bulimia adalah laki-laki. Gangguan makan pada anak-anak
dan remaja dapat menyebabkan sejumlah masalah fisik yang serius dan bahkan
kematian. Jika Anda melihat salah satu dari tanda-tanda gangguan makan,
hubungi dokter anak Anda segera. Gangguan makan tidak bisa diatasi dengan
kekuatan belaka. Anak Anda akan memerlukan pengobatan untuk membantu
memulihkan berat badan normal dan kebiasaan makan. Pengobatan ini juga
membahas masalah-masalah psikologis yang mendasar. Ingat bahwa hasil
terbaik terjadi ketika gangguan makan yang dirawat di tahap awal.
Terdapat tiga jenis gangguan makan,
yaitu :
- Anorexia, suatu
kondisi di mana seorang anak menolak untuk makan cukup kalori, keluar dari
ketakutan yang intens dan irasional menjadi lemak.
- Bulimia, suatu
kondisi di mana seorang anak terlalu overeats (binging) dan kemudian
melakukan pembersihan makanan dengan muntah atau menggunakan obat pencahar
untuk mencegah kenaikan berat badan.
- EDNOS – eating disorders not otherwise
specified, gangguan makan lain yang tidak ditetapkan. Yang
memasukkan beberapa variasi gangguan makan. Kebanyakannya adalah mirip
dengan anoreksia atau bulimia tetapi dengan karakter yang berbeda
sedikit. Binge-eating disorder, yang menerima peningkatan
dalam jumlah penelitian dan perhatian media dalam beberapa tahun
kebelakangan ini adalah salah satu tipe EDNOS (APA, 2005).
Gejala Gangguan Makan
Anoreksia pada anak-anak dan remaja
Anak-anak dan remaja dengan
anoreksia memiliki citra tubuh yang terdistorsi. Orang dengan anoreksia melihat
diri mereka sebagai berat, bahkan ketika mereka kurus. Mereka terobsesi
untuk menjadi kurus dan menolak untuk mempertahankan berat badan minimal bahkan
normal.
Menurut Institut
Nasional Kesehatan Mental , sekitar satu dari setiap 25 anak
perempuan dan perempuan akan memiliki anoreksia dalam hidup mereka. Kebanyakan
akan menyangkal bahwa mereka memiliki gangguan makan.
Gejala anoreksia meliputi:
- kecemasan, depresi, perfeksionisme, atau menjadi sangat
kritis terhadap diri sendiri
- diet bahkan ketika seseorang kurus
- berlebihan atau kompulsif berolahraga
- intens takut menjadi gemuk,
- menstruasi yang menjadi jarang atau berhenti
- cepat merasa berat, dan orang tersebut mencoba
menyembunyikan dengan pakaian longgar
- kebiasaan makan yang aneh, seperti menghindari makanan,
makan secara rahasia, mengawasi setiap gigitan makanan, atau hanya makan
makanan tertentu dalam jumlah kecil
- tidak biasa minat dalam makanan
Anoreksia dapat menyebabkan beberapa
masalah kesehatan yang serius. Permasalahan tersebut meliputi:
- kerusakan organ utama, terutama otak, jantung dan
ginjal
- denyut jantung tidak teratur
- menurunkan tekanan darah, denyut nadi, suhu
tubuh , dan tingkat pernapasan
- sensitivitas terhadap dingin
- penipisan tulang
Anoreksia berakibat fatal pada
sekitar satu dari setiap 10 kasus. Penyebab paling umum kematian termasuk
serangan jantung, ketidakseimbangan elektrolit, dan bunuh diri.
Bulimia pada anak-anak dan remaja
Seperti anak-anak dan remaja dengan
anoreksia, bulimia juga takut berat badan dan merasa sangat bahagia dengan
tubuh mereka. Mereka berulang kali akan makan terlalu banyak makanan dalam
waktu singkat. Seringkali anak atau remaja kehilangan kontrol. Merasa
jijik dan malu setelah makan berlebihan, remaja dengan bulimia mencoba untuk
mencegah kenaikan berat badan dengan menginduksi muntah atau menggunakan obat
pencahar, pil diet, diuretik, atau enema. Setelah membersihkan makanan,
mereka merasa lega.
Orang dengan bulimia biasanya
berfluktuasi dalam kisaran berat badan normal, meskipun mereka mungkin
kelebihan berat badan juga. Sebanyak satu dari setiap 25 wanita akan
memiliki bulimia dalam hidup mereka.
Gejala bulimia meliputi:
- menyalahgunakan obat pencahar dan perawatan lainnya
untuk mencegah kenaikan berat badan
- kegelisahan
- bingeing pada
sejumlah besar makanan
- makan secara rahasia atau memiliki kebiasaan makan yang
tidak biasa
- berlebihan latihan
- penekanan yang berlebihan pada penampilan fisik
- teratur menghabiskan waktu di kamar mandi setelah makan
- menggunakan jari untuk merangsang muntah
- tidak biasa minat dalam makanan
- muntah setelah makan
Komplikasi bisa serius. Perut
asam dari muntah kronis dapat menyebabkan:
- kerusakan enamel gigi
- radang kerongkongan
- pembengkakan kelenjar ludah di pipi
Selain itu, bulimia juga dapat
menurunkan kadar potasium. Hal ini dapat menyebabkan hal yang berbahaya,
ritme jantung menjadi abnormal.
Faktor-faktor Penyebab Gangguan
Makan
Berbagai faktor saling berkaitan
dalam menyebabkan gangguan makan
- Faktor sosiokultural
Tekanan yang berlebihan pada wanita
muda untuk mencapai standar khusus yang tidak realistis
- Faktor psikososial
- Diet yang kaku atau sangat membatasi dapat
mengakibatkan berkurangnya kontrol yang diikuti dengan pelanggaran diet
dan menghasilkan makan berlebihan yang bersifat bulimik
- Ketidakpuasan pada tubuh memicu dilakukannya cara-cara
yang tidak sehat untuk mencapai berat badan yang diinginkan
- Faktor kognitif
- Merasa kurang memiliki kontrol atas berbagai aspek
kehidupan lain selain diet
- Kebutuhan psikologis untuk kesempurnaan dan
kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis atau ‘hitam-putih’ (semua
atau tidak sama sekali)
- Faktor psikodinamika
Kesulitan berpisah dari keluarga dan
membangun identitas individual
- Faktor keluarga
- Keluarga dari pasien gangguan makan sering kali
memiliki karakteristik yang sama yaitu adanya konflik, kurangnya
kedekatan dan pengasuhan, serta gagal dalam membangun kemandirian dan
otonomi pada diri anak perempuan mereka
- Dari perspektif sistem keluarga, gangguan makan pada
anak perempuan dapat memberi keseimbangan pada keluarga yang
disfungsional dengan mengalihkan perhatian dari masalah keluarga atau pun
masalah pernikahan
- Faktor biologis
- Ketidakseimbangan yang mungkin terjadi pada sistem
neurotransmiter di otak yang mengatur mood dan nafsu makan
- Kemungkinan pengaruh genetis
Assesment
Anoreksia
Menurut DSM-IV, anoreksia
nervosa (AN) dimaksudkan dengan “keengganan untuk menetapkan berat
badan kira-kira 85% dari yang diprediksi, ketakutan yang berlebihan untuk
menaikkan berat badan, dan tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus
berturut-turut.” AN terbagi dalam dua jenis. Jenis restricting-tye
anorexia, individu tersebut menurunkan berat badan dengan berdiet sahaja tanpa
makan berlebihan (binge eating) atau muntah kembali (purging).
Mereka terlalu menekan konsumsi karbohidrat dan makan mengandung lemak.
Sedangkan pada tipe binge-eating/purging, individu tersebut makan
secara berlebihan kemudian memuntahkannya kembali secara segaja (APA, 2005)
Kebanyakan orang dengan AN melihat
diri mereka sebagai orang dengan kelebihan berat badan, walaupun sebenarnya
mereka menderita kelaparan atau malnutrisi. Makan, makanan dan kontrol berat
badan menjadi suatu obsesi. Seseorang dengan AN akan sentiasa mengukur berat
badannya berulang kali, menjaga porsi makanan dengan berhati-hati, dan makan
dengan kuantiti yang sangat kecil dan terhadap pada sebagian makanan
(Wonderlich et al, 2005).
Kebanyakan orang dengan AN juga akan
mempunyai masalah psikiatri dan macam-macam penyakit fisik, termasuk depresi,
ansietas, perilaku terasuk (obsessive), penyalahgunaan zat, komplikasi
kardiovaskular dan neurologis, dan perkembangan fisik yang terhambat
(Becker et al, 1999). Gejala lain yang mungkin terlihat dari waktu
ke waktu termasuk penipisan tulang (osteopenia atau osteoporosis), rambut dan
kuku yang rapuh, kulit yang kering dan kekuningan, perkembangan rambut halus
dikeseluruhan tubuh (misalnya, lanugo), anemia ringan, kelemahan dan kehilangan
otot, konstipasi berat, tekanan darah rendah, pernafasan dan pols yang melemah,
penurunan suhu tubuh internal; menyebabkan orang tersebut sering merasa dingin,
dan kelesuan (Wonderlich, 2005)
Sebagai akibat dari nutrisi buruk,
gangguan endokrin yang melibatkan aksis hipotalamus-pituitari-gonad timbul,
bermanifestasi pada wanita yaitu amenorrea dan pada laki-laki yaitu kurangnya
minat berseksual dan kesuburan. Pada anak-anak yang prapubertas, pubertasnya
lambat dan perkembangan dan pertumbuhan fisiknya terbantut (Chavez dan Insel,
2007). Gejala metabolik lainnya, seperti lelah dan intoleransi terhadap
kedinginan juga disebabkan oleh gangguan aksis hipotalamus-pituitari-gonad
(Kiyohara et al, 1987).
Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa (BN) digambarkan
dengan episode berulang makan berlebihan (binge eating) dan kemudian
dengan perlakuan kompensatori (muntah, berpuasa, beriadah, atau kombinasinya).
Makan berlebihan disertai dengan perasaan subjektif kehilangan kawalan ketika
makan. Muntah yang dilakukan secara sengaja atau beriadah secara berlebihan,
serta penyalahgunaan pencahar, diuretik, amfetamin dan tiroksin juga boleh
terjadi (Chavez dan Insel, 2007).
DSM-IV membagikan BN kepada dua
bentuk yaitu purging dan nonpurging. Pada tipe purging, individu
tersebut memuntahkan kembali makanan secara sengaja atau menyalahgunakan obat
pencahar, diuretik atau enema. Pada tipe nonpurging, individu
tersebut menggunakan cara lain selain cara yang digunakan pada tipe purging,
seperti berpuasa atau beriadah secara berlebihan.
BN digolongkan pada orang yang
mengalami episode konsumsi makanan dengan jumlah yang sangat banyak
(misalnya, binge-eating) secara sering, dan merasakan kurangnya
penguasaan terhadap makan. Perilaku binge-eating diikuti
dengan perilaku yang mengkompensasi binge dengan menyingkirkan
makanan yang dimakan (misalnya, muntah, penggunaan obat cuci perut atau
diuretik yang berlebihan), berpuasa dan/atau senaman yang berlebihan (APA,
2005).
Tidak seperti AN, orang yang
menderita BN dapat jatuh kepada golongan dengan berat badan yang normal sesuai
dengan umur mereka. Akan tetapi, seperti AN, mereka juga mempunyai ketakutan
untuk pertambahan berat badan, dan sangat nekad untuk mengurangi berat badan,
merasa ketidakbahagiaan hebat atas ukuran dan bentuk tubuh. Kebiasaannya,
perilaku bulimik adalah rahasia, karena selalu disertai dengan perasaan jijik
dan malu. Siklus perilaku binging dan penyingkiran ini
selalunya berulang selama beberapa kali dalam seminggu (APA, 2005).
Mirip dengan AN, orang yang
menderita BN juga mempunyai penyakit psikologis seperti depresi, ansietas
dan/atau permasalahan penyalahgunaan zat. Kebanyakan kondisi fisik adalah
akibat dari aspek penyingkiran penyakit, termasuklah ketidakseimbangan
elektrolit, masalah gastrointestinal, dan masalah berkaitan dengan rongga mulut
dan gigi (APA, 2005).
Gejala lain yang terkait termasuklah
inflamasi kronis dan sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar di leher dan di
bawah rahang, robekan enamel gigi dan meningkatnya kepekaan dan kerusakan gigi
akibat daripada pemaparan terhadap asam perut, penyakit refluks
gastroesofagus, intestinal distress dan iritasi akibat
penyalahgunaan obat cuci perut, masalah pada ginjal akibat penyalahgunaan obat
diuretik, dan dehidrasi berat karena kekurangan cairan dari tubuh (APA, 2005).
Gangguan mood adalah sering pada
pasien dengan BN dan simptom cemas dan tegang (tension) sering
dialami (Chavez dan Insel, 2007). Kebanyakan pasien dengan BN mengalami depresi
ringan dana sesetengah mengalami gangguan mood dan perilaku yang serius seperti
cobaan membunuh diri dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
Biasanya, pasien dengan BN merasa malu dengan perbuatannya sendiri dan
cenderung untuk merahasiakannya daripada keluarga dan teman-teman. (APA, 2005)
Penanganan yang dapat dilakukan
Dikatakan Wolfe & Mash
(2006:493-498) bahwa penanganan kelainan ini memerlukan kerjasama team
seperti psikiatri, konselor dan juga dokter. Sering kali sulit ditangani tapi
tersedia beberapa pendekatan terapeutik
- Penanganan biomedis
- perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan untuk
membantu pasien anoreksia mencapai berat badan yang sehat atau pasien
bulimia mengatasi siklus makan berlebih lalu mengeluarkannya dalam kasus
dimana terapi rawat jalan telah gagal
- Pengobatan antidepresan dapat digunakan untuk mengatur
napsu makan dengan mengubah proses kimia pada otak atau untuk melepaskan
depresi yang mendasari
- Psikoterapi
Terapi psikodinamika bertujuan untuk
mengeksplorasi dan menyelesaikan konflik psikologis yang ada.
- Terapi behavioral kognitif (CBT)
- Untuk membantu individu dengan gangguan makan
mengalahkan pikiran dan keyakinan yang self-defeating serta mengembangkan
kebiasaan makan dan pola berpikir yang lebih sehat
- Modifikasi perilaku membantu pasien anoreksia yang
dirawat di rumah sakit untuk meningkatkan berat badan dengan memberi
hadiah yang diinginkan untuk perilaku makan yang tepat
- Pemaparan terhadap pemecahan respon membantu individu
bulimia untuk menoleransi memakan makanan yang menurut mereka dilarang
tanpa makan berlebihan dan mengeluarkannya
- Terapi Interpersonal (IPT)
Menekankan pada penyelesaian masalah
interpersonal dengan keyakinan bahwa fungsi interpersonal yang semakin efektif
akan menghasilkan kebisaaan dan sikap makan yang lebih sehat
- Terapi keluarga
Dapat digunakan untuk mengatasi
konflik keluarga dan meningkatkan komunikasi diantara anggota keluarga
Untuk membangkitkan kesadaran klien
dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tetapi usaha tersebut harus terus
dilakukan secara bertahap sehingga yang bersangkutan dapat beradaptasi dan
merasa nyaman dengan perubahan tersebut sampai sepenuhnya klien dapat
mengontrol perilaku makan.